Langsung ke konten utama

Waiting TIme Part 3 : Surat Untuk XYZ di Kotamu




Selang waktu berjalan, nyatanya pahit memudarkan kenangan baik dan indah. Bercampur bersama kabut yang enggan memperjelas pandangan. Setelah bertahun-tahun kita tak bertemu, tak kusangka pertemuan terjadi. Beberapa tahun lalu, aku mengenalmu hanya sebatas tahu. Kemudian bermula dari ketertarikan untuk menjadi berbeda, aku mencoba seleksi dan bergabung dengan timmu untuk meraih prestasi. Aku terlalu lugu di masal perkenalan itu. Polos dan hanya manut-manut saja terhadap apa yang kita lakukan bersama tim. Berbeda denganku sekarang, aku bisa saja berbicara berjam-jam tanpa bosan asalkan lawan bicaraku memang nyaman diajak berbicara. Aku bisa saja nge banyol tanpa arah kalau kondisi memungkinkan. Aku bisa menjadi sangat tenang ketika sekelilingku panik bukan main. Berbeda bukan? Dahulu aku mudah saja panik, gugup, dan ketika rasa itu datang aku bisa diam seribu bahasa atau tanganku menjadi dingin. Mungkin reaksi fisik tersebut masih kualami, hanya saja aku lebih bisa menyembunyikannya kini.

Biarkan aku sedikit bercerita tentang kesanku padamu saat beberapa tahun lalu. Sosokmu dulu sungguh pendiam dengan wajahmu yang adem dan kalem. Sedikit senyum tipis ketika ada temanmu yang senang sekali menggodamu lantaran kau terlalu pemalu. Tak kusangka ternyata dirimu adalah pemimpin di tim itu. Ketika aku lulus seleksi, kita mulai bekerja sama dengan teman-teman yang lain. Sungguh biasa saja, karena hanya ada satu tujuan yang kita raih di situ. Perjuangan yang hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tak masalah,  at least kita sudah berjuang kan?

Tak lama, aku dan teman-temanku meneruskan perjuangan itu. Hasilnya, secara usaha sangat oke, tapi secara pencapaian di penilaian mata juri, belum. Setelah itu, kita berpisah. Aku dengan balada ceritaku yang tersisa di penempaan dan semenjak kita tak lagi satu tim, berbicara tak pernah ada lagi. Pun dulu ketika satu tim, kita juga jarang sekali berbicara.

Kini, setelah jauh di perantauan, kita mengenal kembali. Tepat setahun lalu, ketika kita di pertemukan di sebuah acara. Tak kusangka, ternyata kau tahu aku sedang menggeluti ilmu studi apa. Sedangkan aku, tak sedikitpun tahu, kau melanjutkan studi ke mana dan di bidang apa. Lewat informasi dari temanku, aku mengetahui keberadaanmu di kotaku. Sekilas dalam jarak 4 meter, kita bisa saling melihat tanpa bercakap-cakap. Hanya satu hari saja. Hanya formalitas saja mungkin

Tahun ini, kau kembali datang ke kotaku di acara yang sama. Sayangnya, aku sama sekali tidak terlibat dalam acara yang sedang kau ikuti. Kupikir tak akan ada salam untukku. Eh, ternyata kau menitipkan salam dan memohon dukungan doa melalui temanku. Senang, ternyata sosok pendiam sepertimu memiliki penghargaan yang kuat tentang orang-orang yang pernah kau kenal. Sakit melandaku sekitar empat hari, sehingga bertemu denganmu pun tak bisa. Lagian aku bingung kenapa aku harus bertemu, padahal kau juga punya kepentingan lain. Ingin sih, berbicara dan bertukar pikiran denganmu yang menggeluti hal yang sama denganku.

Akhirnya karena tidak enak hati, aku meminta kontakmu ke temanku. Aku coba mulai percakapan lewat dunia maya. Eh, ternyata kau merespon baik. Bahkan sampai kau mengajakku untuk main ke kotamu yang hampir tiga tahun lalu sudah kukunjungai. Namun, saat itu aku terlalu cupu, jadi masih belum bisa kemana-mana. Wajar dong, kalau aku tanya emangnya mau diajak kemana, soalnya tempatmu kan sangat jauh dari peradaban tengah kota. Mungkin ajakanmu ada benarnya juga, semoga ketika aku ke sana, kau menepati janji yaaa, membawaku mengenali tempatmu.

Ajakanmu ke kotamu bisa jadi hanya candaan, tapi sungguh aku senang dengan ajakan itu. Mungkin aku sudah mulai bosan dengan kota ini. Dengan rutinitas yang semakin padat dan aku merasa menjadi robot, hahaha….

Selain itu, mungkin aku memang butuh bertemu dengan orang yang berbeda, bertukar pikiran, bercanda, berdiskusi, setidaknya mengobati bosan dan menghidupkan sisiku yang mungkin terpendam. Kali ini, berbicara kepadamu seperti sangat leluasa. Tidak seperti pertemuan dulu, dibatasi oleh tembok dan aturan tak tertulis. Sepertinya aku harus segera ke sana tengah tahun ini, karena mungkin akhir tahun ini kau akan meninggalkan kota itu dan berpindah.

Seseorang pernah berdoa seperti ini “cari orang-orang yang dipercaya supaya betah”, tepat di hari ulang tahunku. Namun, rasanya dipercaya saja tidak cukup. Ketika kenyamanan satu per satu menyingkir, maka pencarian kenyamanan harus selalu dicari. Bisa jadi aku juga mulai bosan dengan mencari. Aku hanya tidak ingin menjadi kufur nikmat karena bosan. Semoga pertemuan ke sekian kali nanti, aku bisa belajar banyak lagi darimu. Tentang ikhlas,tenang, dan bersyukur. Tunggu aku di kotamu, doakan aku supaya secepatnya bisa ke sana, dan memulai perbincangan yang menarik…. Salam terhangat dari anggota timmu yang lugu J


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dampak Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika Terhadap Aspek Kehidupan

Dampak Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika  Terhadap Aspek Kehidupan Disusun Oleh: {          Diajeng Anjarsari Rahmadhani {          Kezia Grace Monica {          Kresna Dwiki Ramadhana {          Rashif Imaduddin Lukman KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmatnya sehingga kami dari Kelompok 1 dapat menyelesaikan makalah mengenai Zat Adiktif dan Psikotropika. Makalah ini kami buat dengan penuh ketelitian dan kami rangkum dari beberapa sumber yang dapat dipercaya.  Makalah ini kami harap dapat bermanfaat bagi pembaca mengingat banyaknya pemanfaat negatif dari zat adiktif dan psikotropika. Dengan adanya makalah ini kami harap kita semua dapat terhindar dari dampak negatif zat adiktif dan psikotropika.Zat adiktif dan psikatrop...

Terjebak Dalam Bayangan

Manusia, oh Manusia Terjebak dalam angan kemungkinan dalam pikirnya Padahal sudah berulang kali dijauhkan oleh-Nya Berlalu waktu, hidupnya tenang dan baik saja Halaman tua sudah ditutup Namun, terganjal saat lintasan bayangnya nyata di mata Bukan ingin mengulang, tapi hanya saja ini tersisa kemungkinan Dibukanya kembali halaman itu Diteliti kembali karena sudah lupa rasa Baru buka satu dua kalimat, ternyata logika menolak Untuk kesekian kali, memori pahitnya mencuat Untuk apa berupaya tapi ternyata hanya give and give Untuk apa mendengar kalau ternyata tidak pernah ada pertanyaan berbalas Ternyata buku lama itu memang diperlukan Dibaca kembali, agar hati tidak menjadi bodoh Evaluasi dapat dianalisis, hingga dirimu tidak lagi jatuh pada angan Yakinlah jalanmu sejauh ini diatur oleh-Nya Dijauhkan dan ditemukan dengan orang-orang yang jauh lebih memahami Maka, manusia, kenapa ragu akan takdir-Nya Kenapa takut akan tidak menemukan padahal jalanmu adalah ditemukan Bacalah jalanmu, sepertiny...

Lewat

 Terjebak dialektika dalam nalar Ditatap nanar oleh sosok diri sendiri Mengharapkan untaian adegan Tentangnya yang nyata tapi tidak merasa Tatapannya merdu untuk jiwa yang haru Sapanya halus seolah sedang mengelus Hingga akhirnya dia tahu  Ternyata mendamba setelah sudah berlalu Tidak ada yang sia-sia Setelah sekian lama dia tetap inersia Akhirnya orang itu muncul, mengusik Memberi ajar untuk berhenti diam Cari tahu ingin diri Beri pandang tentang standar Beri sadar tentang kualitas Bawa sadar pada realitas