Langsung ke konten utama

Postingan

Krisis

Birunya langit tak pernah sama. Dalam hitam dan putihnya lembaran hari, tak kunjung juga membuat manusia mampu menentukan dengan pasti terkait langkah apa yang akan didapat. Saat menjadi anak-anak, rasanya menyenangkan menjadi dewasa. Saat dewasa, justru terlalu banyak hal yang membuat bingung. Dulu kukira kebebasan dapat menyembuhkan luka dan menjawab celah besar yang tak terisi. Berkelana mencari cara hidup, melihat dunia dan menjelajah, mencoba mencari penglihatan yang luas. Seiring waktu berjalan, luka perlahan sembuh. Pertanyaan perlahan terjawab. Dunia luas yang ingin dilihat perlahan terbuka. Namun, ternyata dunia yang luas tidak mampu memberikan kebahagiaan. Tidak hanya dalam penelitian yang membutuhkan batasan dan asumsi, ternyata dalam menata hidup pun perlu batasan. Batasan menentukan kemampuan diri. Batasan dunia yang ingin dijalani ke depan. Sebagian mengatakan, jalani saja hidup. Tapi, untuk orang-orang yang visioner menjadi sebuah masalah besar ketika tidak bisa menentuk...

Manusia dan Luka yang Membentuknya

Sepertinya mengenal seseorang dari luka dan latar belakang ia tumbuh mampu membuat kita paham tentang dirinya. Luka dan liku kehidupan yang ia jalani membentuk dia yang saat ini. Manusia selalu punya pilihan untuk menjadikan luka sebagai alasan untuk berkembang atau justru menjadi aneh tak terkendali. Namun, memang tak semua karakter berkembang karena luka, tapi juga bisa dari hasil pengamatan dan olah informasi yang dilakukan oleh setiap individu. Sayangnya hal tersebut hanya memberikan gambaran dari luar. Inilah yang sering kali membuat saya tertarik untuk mendengar. Dengan mendengar, saya mampu mendapat wawasan baru, membantu mereka menggali alasan dan kejadian fundamental yang mempengaruhi kondisi dan perspektif mereka saat ini. Meski senang mendengar, justru menjadi sulit untuk bercerita. Beberapa tahun terakhir, saya sibuk mencari alasan untuk menikah. Namun sekarang, setelah saya membaca banyak referensi, berbagai pertanyaan menjadi muncul. Apakah saya terlalu berpikir secara lo...

APAKAH KARENA PANDEMI?

Dunia semakin menggila. Berbagai kenyataan mulai hadir secara beragam. Waktu semakin berjalan, ambisi tak lagi seperti dahulu. Pandemi mengubah segalanya. Mengubah pola pendewasaan pada masyarakat. Menjadikannya sebagai alasan pembenaran pada berbagai peristiwa yang berada di luar norma benar dan salah. Sementara masyarakat bergerak, susah dan payah untuk bertahan, sebagian lain ada yang mampu melihatnya sebagai kesempatan. Politik mencampuri komoditas bahan pokok. Idealisme menjadi rancu karena situasi terlalu cepat berubah dan meminta untuk adaptasi.  Terkait percaya, sebagian meyakini jangan percaya pada orang lain selain diri sendiri. Sebagian lain menyarankan untuk coba memberi sebagian kepercayaan. Namun, sepertinya manusia pada zaman ini terjebak dalam hiruk pikuk dunia yang cepat sehingga mereka gemar sekali lupa pada perkataannya sendiri. NANTI, PASTI. Hampir sering terdengar pada telinga ataupun melalui pesan teks WA.  Dengan pekerjaan dan situasi saya yang saat ini ...

Hidup

Aku melihatnya nyala Kadang terlihat padam dan mendung Kadang juga murung Kadang juga tidak mengerti kenapa harus hujan Naik dan turunnya membuat letih Namun, datar juga kadang tidak memberi variasi Aku tidak paham dengan algoritmanya Bahkan hanya untuk satu manusia saja tidak dapat dirumus  Dia terlalu unik Patah dan tumbuhnya bersilih  Tanpa sadar membangun pendewasaan yang tercipta Hanya saja terlalu sulit dipahami Terlalu abstrak tapi beberapa ada rumus penyelesaian Sayangnya tidak ada rumus untuk memprediksinya Hanya sisa-sisa kenangan yang bias Dan harapan yang kadang pupus menjadi debu Diterpa angin, pergi hingga ke arah yang tak dipahami Mengalun pada hening yang bersajak Berdendang bersama suara hewan yang tak saling memahami Mencaci fakta meski tahu dia tidak akan berubah Dia suka sendiri terlalu sering Mengajarkan banyak cerita hingga tak mampu lagi bercerita Tak ada lagi tokoh yang dapat dikisahkan Bosan pada reka ulang yang terjadi dan kisah yang terus diulang unt...

Tentang Kemarin Malam

Ini tidak akan selesai jika tidak dijabarkan dalam kata ataupun gambar. Untuk kesekian kalinya, kebenaran itu hadir tanpa dipaksa. Secara natural, perbincangan selalu mengalir tanpa paksaan. Pertanyaan yang hadir selama ini pun terjawab. Aku kembali patah untuk kesekian kalinya. Kesekian kalinya aku bingung mengkategorikannya. Apakah aku patah karena ada sedikit harapan tentangnya atau hanya sekedar rasa sedih dalam karena hanya aku yang tidak memiliki siapapun, yang ada hanya sementara ataupun untuk masa depan. Atau aku terlalu salah menilai diriku sendiri. Aku mengenal sisi lainnya yang tidak banyak orang tahu dan aku tahu ada seseorang di sisinya serta masalah apa yang membuatnya kian tak berdua secara komitmen. Aku terlalu jauh menyiapkan diri jika aku tidak dapat seperti apa yang kumau. Aku mulai menurunkan ego. Aku membuka diri. Aku menceritakan perjalanan. Semua berujung padanya yang menceritakan bahwa dia sedang berada dalam dekapan seseorang.  Alasan kenapa tidak kunjung m...

TAKUT

 Selalu ada duka yang sulit untuk disembuhkan. Rasa sepi yang semakin menggumun meski ramai dengan tawa. Hanya ada aku dan aku dan hanya aku. Rasanya latihan kemandirian ini selalu bergulir, entah sampai kapan. Sepi dan sepi lagi. Merasa tak pantas untuk merasa sedih dan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Pun jika kubiarkan diri, tak ada yang akan peduli. Aku tak butuh banyak, aku hanya cukup satu, tapi rasanya tak kunjung datang.  Aku terlalu takut untuk mengakui ketakutanku. Ketakutan terlihat lemah meski semua pasti tahu. Takut menjadi lemah dan selalu berusaha kuat dengan sendiri meski nyatanya semua hanya tersembunyi. Sulit sekali untuk berekspresi seperti mereka. Entah aku yang tidak mampu bercerita atau aku yang terlalu datar. Adakah masa dan kesempatan untukku merasa dimengerti, ditemani, didengar, dan hal baik lainnya. Entah harus berapa ratus kali menjadi pendengar, tapi tak mampu didengar. Berulang kali menemani tapi berulang kali juga ditinggalkan. Menemukan untuk...

What's Your Goal?

I never know how to recognize people intentions properly Maybe it seems through their eyes Maybe it is hidden behind their sweetest smile The more I see, the more I get curious and confuse at the same time People say future has to be planned While some others think future is just the way it is There is time when I can't find goal to reach anymore Even I usually make goals and reached without I try so hard Maybe it sets like a pray  World gives me a lot of perspectives to see Showing me a lot of  role to take Speaking loud in silence about the things that can't be spoken publicly Being dumb while the surrounding is too busy speaking I am always being curious about what the future will be What tomorrow will teach me or cheer me up What events will erase my healed pain which still left the mark About who and what next will change It sounds like sand on the beach Wind spoken on its way While I am just sitting under the tree And my mind wants to travel on the space it's never be...